Sesungguhnya Manusia Itu Dlm Kerugian
Untuk nk manambahkan amalan2 dan ilmu2 pengentahan sila masukkan di sini
DAN Satu lagi Ceramah2 mp3 untuk dawnload fife
Keistimewaan Sya’ban dan Ramadhan

Keistimewaan Sya’ban dan Ramadhan. Sesungguhnya untuk yang mau mempelajari bulan demi bulan mengandung kelebihan tersendiri, Ramadhan turunnya Al-Quran, Zulhijjah disebut bulan haji, Nabi Ibrahim mengorbankan anak sendiri Ismail kemudian umat Nabi Muhammad SAW, menamakannya bulan korban. Bulan Rajab Isra’ Mikraj Rasulullah SAW. Bulan Sya’ban meiliki jumlah keistimewaan dan hikmah pula, yakni hikmah dan kebaikan yang dikandungnya. Bulan Sya’ban mendatangi kita tiap tahun guna memberikan kesempatan agar meningkatkan dan melipatgandakan berbagai amal kebaikan. Pada bulan inilah kesempatan bagi kaum muslimin memperbanyak amal ibadahnya serta perbuatan lainnya seperti memberi sedekah fakir miskin, membina anak yatim, memperbanyak puasa sunnat guna melatih diri menghadapi puasa Ramadhan nantinya.
Aisyah istri Rasulullah SAW, menjelaskan sebagai berikut, bahwa selain Ramadhan, Nabi Muhammad SAW, selalu berpuasa pada bulan Sya’ban. Hadis yang diriwayatkan Usmah bin Zaid menjelaskan : “saya bertanya kepada Rasulullah SAW, : Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya tidak pernah melihat engkau memperbanyak puasa sunnat mu pada bulan-bulan yang lain, seperti yang engkau lakukan pada bulan Sya’ban. Rasulullah SAW, menjawab kepadanya dengan mengatakan bahwa bulan Sya’ban adalah bulan yang terletak antara bulan bulan Rajab dan Ramadhan sering kali orang melupakan fadilah dan keutamaan yang terkandung didalamnya bulan tersebut. Padahal bulan tersebut segala amal perbuatan selama satu tahun diangkat kehadapan Allah SWT. Dan inilah sebabnya kenapa saya banyak berpuasa sunnat pada bulan tersebut, karenanya ingin amal dan perbuatan saya diangkat kehadapan Allah SWT. Dan saya dalam keadaan puasa.
Hadis diatas kemudian diperkuat lagi oleh hadis riwayat Anas ra. ” Orang muslim di zaman Rasulullah SAW, dan sahabatnya selalu meningkatkan bacaan Al-Quran setiap kali memasuki bulan Sya’ban, dan pada bulan Sya’ban jugalah mereka selalu membayar zakat mereka terhadap fakir miskin demi untuk membantu menghadapi bulan Ramadhan dengan jiwa yang tenang”. Kedua hadis Rasulullah itu mengingatkan kaum muslimin menyambut bulan Sya’ban dengan melaksanakan perintah Allah SWT, dan melaksanakan perbuatan yang baik-baik. Bagi mereka yang mendapatkan rezki yang dilebihkan Allah jangan lupa menyisihkan sebagian rezki itu untuk bersedekah dan membayar zakat. Mudah-mudahan Allah SWT, dengan menunjukkan amal ikhlas seorang muslim sejati disisi Allah SWT, akan menurunkan rahmat yang berlimpah kepada manusia dan alam sekitar. Seperti rahmat kesehatan, rahmat kesempatan, rahmat Iman dan rahmat Islam.
Hadis lain tentang keistimewaan bulan Sya’ban ialah kata Aisyah :” saya tidak pernah melihat Rasulullah SAW, menyempurnakan puasanya satu bulan penuh, selain puasa bulan Ramadhan dan saya tidak melihat pula Rasul SAW, berpuasa dibulan lain, lebih banyak dari bulan Sya’ban”. (Hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim). Keterangan hadis diatas menyelaraskan puasa sunnat yang dilakukan Rasul SAW, pada bulan Sya’ban lebih banyak dilakukan dibanding dengan bulan-bulan lainnya. Kecuali Ramadhan Rasul SAW. Melakukan puasa sunnat, cukup banyak.
Mengapa puasa bulan Ramadhan dilakukan sebulan penuh? Karena puasa pada bulan Ramadhan merupakan puasa yang diwajibkan bagi orang-orang beriman (Al-Baqarah : 183). Berpuasa berarti menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas rahmdan karunia dan nikmat Allah yang kita peroleh. Melalui puasa sunnat dan puasa wajib, berarti kita menyatakan rasa syukur kepada-Nya. Selain berterima kasih itu melalui puasa membuktikan bahwa kita sanggup menahan makan dan minum dan menahan segala hawa nafsu yang menyesatkan disebut hawa nafsu hewani. Dan hikmah puasa lainnya, adalah memberikan pendidikan kepada kita untuk berdisiplin diri dan mendidik pula rasa belas kasihan bagi orang-orang yang tidak mampu dan dengan puasa dapat terjaga kesehatan rohani dan jasmani. Sebaiknya lakukan puasa baik puasa sunnat dibulan Sya’ban maupun puasa wajib di bulan Ramadhan.
Setelah dapat memahami dan menjalankan apa yang terkandung pada bulan Sya’ban jadi istimewa sebagai hadis Rasul SAW, tersebut diatas yang diriwayatkan Usmah bin Zaid, kapan sampai bilangan perjalanan bulan sampai bulan Ramadhan bermodalkan pengalaman di bulan Sya’ban Insya Allah dapat dengan ikhlas mengamalkan ibadah selama bulan Ramadhan nanti ikhlas karena Allah SWT. Benar cara mengerjakan ibadah tersebut, yakni tujuan hendak dicapai redha Allah. Merasakan fakir dalam amal (miskin dalam amal) selama Ramadhan nanti hindari menunda amal shaleh untuk dikerjakan atau mengulur-ngulur waktu shalat umpamanya.
Inilah yang dimaksud ke istimewaan dan hikmah bulan Sya’ban dan bulan Ramadhan. [ dari berbagai sumber... (bk).]
الخط العربية

คอทอารอบีเป้นเอกลักษณ์ที่ตกถอดมาจากรุ่นปู่จนมาถึงรุ่นหลานปัจจุบันนี้ ซึ่งเป้นงานฝีมือด้านการเขียนที่มีความสวยงามหลากหลายรูปแบบ..............ยังมีอีกมากมายสวยๆที่ทางเราเก็บมาฝากด้วยฝีมือของนักเขียนจากแดนอาหรับ สำหรับท่านใดสนใจ คลิกที่นี้ รับรองไม่ผิดหวัง
Islam dan Kehidupan Pribadi Manusia

Islam dan Kehidupan Pribadi Manusia. Islam dia adalah jalan yang lurus, mudah dipelajari, praktis untuk di amalkan terjamin dalam kebenarannya. Allah SWT, menjelaskan : “sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Quran dan sungguh Kami yang menjaga keasliannya “. ( Al-Quran Surat Hijr ayat ke 9).
Islam yang rujukannya Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW, mampu sejak dulu sampai waktu tanpa batas meluruskan yang salah kepada yang benar disebut reformasi pribadi maupun secara menyeluruh tanpa dibatasi ruang dan waktu, setiap lembar Al-Quran itu menjadi penuntun guna mereformasi diri dan bangsa. Ayat pertama turun. “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang paling Pemurah, Yang mengajar ( manusia) dengan perantaraan kalam). Dan mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya “. ( Al-Quran Surat Al-Alaq ayat ke 1 sampai 5).
Empat belas abad telah berlalu, sejarah mencatat bahwa masyarakat Arab diselimuti kegelapan dan peradaban, sampai berada didasar jurang keruntuhan. Insane saat itu kehilangan pegangan. Tata kemanusiaan tinggal namanya saja lagi. Manusia dalam prilakunya menunjukkan sebagai hewan, kecuali meiliki akal disebut dalam bahasa agama hewan yang memiliki pemikiran, dan berkeinginan untuk lebih maju dan modern.
Akal itu dijadikan dibuat sebagai tunggangan nafsu untuk memusakan kehendak hewaniyah sendiri. Situasi dan kondisi demikian sudah hampir-hampir merata dikalangan masyarakat Arab ketika itu. Ajaran Allah SWT, lewat Rasul-Rasul pilihan diturunkan Allah SWT, ke bumi tidak masuk hitungan masyarakat Arab waktu itu. Kekuasaan dan kebenaran telah dapat dikatakan kabur sudah mencapai kapal kehilangan kemudi sedang menghadapi gelombang besar tengah lautan luas, kecuali jadi pedoman adalah kekuatan fisik, maka lahirlah si kut pasti menang.
Kekuatan fisik ini dapat saja berubah bentuk kekuasaan atau kekayaan, sedang si lemah dan miskin tetap berada dipihak yang “salah”.
Pada saat itu lah Allah SWT. Yang Rahim Rahman mengembalikan masyarakat Arab kepada harkat ke manusiaan sehingga berfungsi dengan kejadian sucinya yakni sebagai “ Khalifah di bumi”.
Ketika itulah Allah SWT, megutus Muhammad menjadi Nabi dan Rasul dengan beban tugas sangat berat. Ia menyeru umat kembali kejalan yang benar ( amar makruf nahi mungkar). Jalan yang didambakan segenap umat sejak dulu sampai sekarang.
Muhammad SAW, mendapatkan tugas merombak peradaban jahiliyah yang penyebab masyarakat Arab merluncur jauh ke jurang kegelapan ilmu dan peradaban.
Sesungguhnya situasi demikian ( runtuhnya ilmu dan peradaban ) manusia-manusia di tanah Arab sukarlah rasanya Muhammad akan mampu mengadakan perubahan, yang disebut sekarang Era reformasi.
Karena Muhammad SAW, sedang dikurung ditengah kegelapan disemua sendi-sendi kehidupan, tetapi tugas itu wajib dilaksanakan.
Dapat disadari jikalah Muhammad SAW, kerja hanya dengan ratio (pemikiran) kemanusiaannya, akal insan semata sukarlah Muhammad melakukan perubahan dari masyarakat jahil ke masyarakat suasana yang di redhai Allah SWT. Muhammad tidak berbuat berpedoman akal semata. Muhammad hanya pelaksana dengan alat wahyu diturunkan Allah SWT.
Di malam 17 Ramadhan Muhammad SAW, diperintahkan melaksanakan “ Revolusi Kemanusiaan”. Mengembalikan masyarakat tanah Arab kepada kemanusiaan yakni dari sifat hewaniyah.
Malam itulah (17 Ramadhan) Jibril atas perintah Allah SWT, menjumpai atau menemui Muhammad ditempat dia berkhalwatdi Gua Hira. Menyampaikan Firman Allah yang pertama, Surat Al-Alaq ayat 1-5 tersebut.
Muhammad dengan bermodalkan wahyu Allah SWT itu, membaca nama Allah kendatipun ibarat sebatang lilin ditengah kegelapan keruntuhan masyarakat Arab mampu menerangi situasi dan kondisi yang ada.
Muhammad tidak tunduk terhadap situasi dan kondisi kebejatan sedang mengurungi masyarakat Arab beserta isinya. Muhammad SAW, menciptakan situasi dan keadaan baru, ialah mengangkat kesadaran yang mengendap, disebabkan timbunan sampah kebatilan menguasai keadaan waktu itu.
Al-Quran sebagai pedoman Muhammad dapat menyingkirkan kejahilan berhasil menjadi suasana ta’at. Dalam jangka waktu 23 tahun Muhammad SAW, merubah masyarakat sembarut menjadi masyarakat damai, adil, makmur. Masyarakat selama ini ditandai kebodohan tidak mengenal harkat diri kemanusiaan itu mulanya dapat dibentuk menjadi masyarakat “ Badhtun Taibathun Warabun Ghafur”. (Dibawah naungan ampunan Allah SWT).
Terbukti sejak dulu sampai sekarang manusia-manusia berusaha kea rah membentuk masyarakat aman makmur. Hanya saja belum jadi kenyataan secara penuh, kecuali manusia pemikir itu dilahirkan dari karya besar yang mulia Muhammad SAW.
Sekarang umat sedang dihadapkan kepada tantangan diberbagai penjuru. Sebagai umat Muhammad SAW. Saatnya satu bahasa memperbaharui untuk membangun disemua sendi-sendi kehidupan, guna mencapai masyarakat adil makmur yang sedang didalam pembinaan sekarang. Inilah yang dimaksud Islam dan kehidupan pribadi manusia. (Berbagai sumber).
KELEBIHAN BULAN SYABAAN
Sabda Nabi s.a.w. : Apabila masuk bulan Sya'aban, baikkanlah niatmu padanya, kerana kelebihan Sya'aban atas segala bulan seperti kelebihanku atas kamu.
Barangsiapa berpuasa sehari pada bulan Sya'aban, diharamkan Allah tubuhnya dari api neraka. Dia akan menjadi tauladan Nabi Allah Yusuf a.s.di dalam syurga. Diberi pahala oleh Allah seperti pahala Nabi Allah Ayub a.s. dan Nabi Daud a.s. Jika dia sempurnakan puasanya sebulan di bulan Sya'aban, dimudahkan Allah atasnya Sakrotulmaut dan ditolakkan (terlepas) daripadanya kegelapan di dalam kubur, dilepaskan daripada hira-hara Munkar dan Nakir, ditutup Allah keaipannya di hari kiamat dan diwajibkan syurga baginya.
Barangsiapa berpuasa pada awal hari khamis pada bulan Sya'aban dan akhir khamis daripada Sya'aban, dimasukan dia ke dalam syurga. (dari kitab Al-Barakah).
Berkata Siti Aisyah r.a., bulan yang lebih dikasihi oleh Rasululah s.a.w. ialah bulan Sya'aban.
Sabda Nabi s.a.w.: Sya'aban adalah bulanku dan Ramadhan adalah bulan umatku. Sya'aban ialah mengkifaratkan (menghapuskan) dosa dan Ramadhan ialah menyucikan dosa (jasmini rohani).
Sabda Nabi s.a.w.: Bahawa puasa Syaba'an kerana membesarkan Ramadhan. Siapa yang berpuasa tiga hari daripada bulan Sya'aban, kemudian dia bersalawat atasku beberapa kali sebelum berbuka puasa maka di ampunkan oleh Allah dosanya yang telah lalu, diberkatikan rezki baginya, antara lain sabdanya lagi: Bahawa Allah Ta'ala membukakan pada bulan itu tiga ratus pintu rahmat.
Sabda Rasulullah s.a.w.: Dinamakan Sya'aban kerana padanya terdapat dapat kebajikan yang amat banyak dan puasa yang lebih afdhal sesudah Ramadhan ialah puasa bulan Syaaban. Pengertian Sya'aban: Kemuliaan, Ketinggian, Kebajikan, Jinak, Cahaya.
Sabda Nabi s.a.w.: Bahawa kelebihan Rejab atas bulan-bulan yang lainnya seperti kelebihan Qur'an atas segala kalam. Kelebihan Sya'aban atas bulan-bulan yang lainnya seperti kelebihanku atas segala Anbia' (Nabi-nabi). Kelebihan Ramadhan atas bulan-bulan yang lain seperti kelebihan Allah atas sekelian makhlukNya.
Bulan Sya'aban, keagungan malamnya dengan Nisfu Sya'aban seperti keagungan Ramadhan dengan Lailatul Qadarnya. Maka pada malam Nisfu Sya'aban telah datang Jibril kepada Rasulullah s.a.w lalu katanya: Angkat kepalamu ke langit, itulah malam yang Allah padanya tiga ratus rahmat dan diampunkan Allah sekelian orang yang menyangutukan (syirik) denganNya sesuatu, kecuali: tukang nujum, kekal dalam zina, kekal minum arak, derhaka terhadap ibubapa.
Allah menilik kepada hambaNya pada malam Nisfu Sya'aban maka diampunkan dosa segala makhlukNya melainkan orang syirik dan orang yang tidak bertutur dengan saudaranya.
Apabila pada malam Nisfu Sya'aban maka berjagalah kamu pada malamnya bersembahyang, beribadat dan puasa kamu pada siangnya. Allah berfirman yang bermaksud: Adakah orang yang meminta ampun maka Aku ampunkannya, adakah orang ditimpa bala Aku afiatkannya. Adakah orang yang meminta rezki maka Aku rezkikannya, demikianlah pertanyaan lainNya sehingga keluar fajar subuh.
Tersebut dalam kitab Al-Barakah: Bahawa jin, burung, binatang-binatang buas, ikan dilaut berpuasa mereka pada hari Nisfu Sya'aban
Tersebut di dalam Kitab Iqna' : Bahawa Jibril bersungguh-sungguh pada malam Nisfu Sya'aban menunaikan segala hajat. Maka datanglah Jibril kepada Rasulullah s.a.w. kali keduanya katanya: Ya Muhammad! gembirakanlah kamu bahawa Allah Ta'ala telah mengampunkan segala umatmu orang yang tidak mengsekutukanNya sesuatu, angkatkan kepalamu, lalu Rasulullah mengangkatkan kepalanya, tiba-tiba terbuka segala pintu syurga.
Bahawa malam Nisfu Sya'aban adalah hariraya Malikat, begitu juga pada malam Lailatul Qadar mereka tidak tidur, dipenuhi dengan amal dan ibadat sepanjang malamnya. Dan bagi anak-anak Adam berhariraya pada siang hari dengan berpuasa dan ibadat, kerana mereka tidur pada malamnya.
Barang siapa membaca pada bualan Sya'aban, ayat dibawah ini. Allah hapuskan daripadanya dosa seribu tahun dan keluarkan dari kuburnya mukanya seperti bulan purnama yang bermaksud:
Allah tidak akan mengampunkan dosa pada malam Nisfu Sya'aban enam orang:
1. Orang yang kekal minum arak.
2. Orang yang durhaka dua ibubapanya.
3. Orang yang kekal dalam zina.
4. Orang yang banyak berkelahi.
5. Orang yang melakukan perjualan dengan sumpah yang dusta.
6. Orang yang memperlagakan orang supaya berkelahi.
Pada malam Nisfu Sya'aban setelah berlalu 1/3 malamnya, Allah turunkan kelangit dunia lalu berfirman yang bermaksud: Adakah orang-orang yang meminta maka Aku perkenankan permintaanya, adakah orang yang meminta, maka Aku perkenankan permintaanya, adakah orang yang meminta ampun maka Aku ampunkannya, adakah orang bertaubat maka aku Taubatkannya dan diampunkan bagi sekelian orang mukmin lelaki dan perempuan melainkin orang yang berzina atau orang yang berdendam marah hatinya kepada saudaranya.
Sabda Nabi s.a.w.: Hai Aisyah! adakah engkau izinkan aku sembahyang pada malam ini? Jawab Aisyah: Ya, aku izinkan, lalu Nabi pun bersembahyanglah sepanjang malam Nisfu Sya'aban itu, beliau telah diambil ruhnya (mati), lalu aku tutupkannya dengan kain, Daku letakankan tanganku di atas dua tapak kakinya. Maka gembira aku kerana beliau masih bernafas lagi dan aku dengar beliau membaca di dalam sujutnya yang bermaksud::
AKU BERLINDUNG DENGAN KEMAAFAN ENGKAU DARI SIKSA ENGKAU DAN AKU BERLIDUNG DENGAN KEREDAAN ENGKAU DARIPADA KEHINAAN ENGKAU DAN AKU BERLINDUNG DENGAN ENGKAU DARIPADA KEJAHATAN YANG DATANG DARIPADA ENGKAU, AKU TIDAK TERHINGGA MEMUJI ENGAKU SEPERTIMANA ENGAKU MEMUJI DARI ENGKAU.
Nabi menyuruh Aisyah mengamalkan doa ini dalam sujut.
Sesiapa sembahyang pada malam Nisfu Sya'aban daripada umat Muhammad s.a.w. terlebih afdal daripadanya ibadatnya 400 tahun. Demikian Allah memberi tahu kepada Nabi `Isa a.s, lalu Nabi `Isa a.s. pun berdoa kepada Tuhan: Mudah-mudahan aku daripada umat Muhammad s.a.w.
Telah disebut empat malam istimewa tentang beribadat (berbuat amal kebajikan) iaitu malam Nisfu Sya'aban, malam Raya Fitrah yang pertama dan malam Arafah. Disembunyikan malam Lailatul Qadar kerana bahawasanya malam rahmat dan mereka daripada api neraka, supaya sapanjang malam Ramadhan atau sepanjang sepuluh yang akhir daripada Ramadhan umat Muhammad berlumba-lumba dalam ibadat dengan berjaga malamnya. Demikian pula saat mustajab doa pada hari Jumaat
AMALAN PADA MALAM NISFU SYABAAN:
Selesai sembahyang Maghrib hendaklah dibaca YASIN. Dengan niat panjangkan umurnya dalam mentaati Allah. Kemudian berdoalah. Kemudian dibacakan pula YASIN dengan diniatkan diluaskan Allah rezkinya yang halal dan diberkatinya, kemudian lalu dibacakan doanya. Kemudian dibacakan pula YASIN dengan diniatkan minta mati dalam iman, kemudian lalu dibacakan doanya.
Pada malam Nisfu Sya'aban sangat baik dibanyakan beristighfar (memohon keampunan) dan taubat dari dosa-dosa besar dan kecil serta meminta diampunkan Allah ibubapa kita dan keluarga kita.
(Ya Allah, Engkau Tuhanku, tiada ada Tuhan melainkan Engkau, Engkau telah menjadikan aku dan aku adalah hambaMU, sentiasa berada dalam genggamanMu dan ketetapanMU, tiada ada kesanggupanku. Aku mengaku padaMU nikmatMu atasku dan aku mengaku kepadaMu dengan dosa-dosaku, maka ampunilah aku. Sesungguhnya tiada apa yang akan mengampun dosa melainkan Engkau jua. Aku berlindung dengan Engkau daripada kejahatan apa yang telah aku lakukan.
Memohon keampunan dua ibubapa,
Maksudnya: YA TUHANKU AMPUNILAH AKU DAN KEDUA IBUBAPAKU DAN RAHMATILAH DUANYA SEPERTIMANA MEREKA MENDIDIK AKU DI WAKTU KECIL.
Memohon keampunan dan taubat diri: (70/100 kali pagi petang)
Maksudnya: AKU MOHON KEAMPUNAN ALLAH DAN AKU BERTAUBAT KEPADANYA.
Membaca: (beberapa kali - pahala seperti ibadat seribu tahun).
Maksudnya: TIADA TUHAN MELAINKAN ALLAH DAN TIADA KAMI SEMBAH MELAINKAN DIANYA, DENGAN CARA IKHLAS KEPADANYA, LAGI TETAP TEGUH DI ATAS TAUHID, WALAU PUN MEMBENCI OLEH ORANG-ORANG KAFIR.
Membaca Al-Qur'an.
Membaca Tasbih: (Seratus kali tiap-tiap satu)
Maksudnya: Maha Suci Tuhanku yang Maha Tinggi.
Maksudnya: Maha Suci Allah dan dengan segala kepujianNya. Maha Suci Allah yang Maha Agung.
Maksudnya: Maha Suci Allah dan segala kepujian bagi Allah tiada Tuhan melainkan Allah dan Allah Maha Besar (Agong) tiada suatu daya dan tiada suatu kekuatan melainkan dengan Allah Yang Maha Agong.
Membaca Solawat Atas Nabi: ( 10 atau 100 kali pagi dan petang.)
Membaca Zikrullah: (100 kali selepas sembahyang Subuh dan Asar.)
Sembahayang-sembahyang sunat: Sunat Mutlaq, Sunat Isyraq, sunat Dhuha, Sunat mengiringiFardhu, Sunat Awwabin, Sunat Tahajjud, Sunat Tasbih, Sunat Witir dan Sunat Hajat di tengah malam sebaik-baiknya memohon hajat sesuatu.
--------------------
http://www.brunet.bn/gov/mufti/irsyad/pelita/2003/ic41_2003.htm
BULAN SYA'BAN :
Persediaan Di Ambang Ramadhan
Setiap bulan dalam sepanjang tahun mengikut kiraan taqwim Hijriyyah mempunyai kelebihan tertentu dan keistimewaan beribadat di dalamnya. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta‘ala menciptakan hari atau bulan itu ada yang baik dan ada yang lebih baik. Sebagaimana yang disebutkan oleh hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai kelebihan bulan Muharram, Rejab, Sya‘ban, Ramadhan, Syawal dan Zulhijjah sebagai bulan-bulan yang istimewa. Begitu juga dengan hari-hari tertentu seperti Juma‘at, Khamis dan Isnin mempunyai pelbagai fadhilat.
Bulan Sya‘ban Dan Galakkan Beribadat Di Dalamnya
Sekarang kita berada di bulan Sya‘ban. Bulan Sya‘ban juga mempunyai keistimewaan tersendiri di dalam Islam. Keadaan ini samalah juga dengan bulan-bulan yang lain yang mempunyai fadhilat tersendiri, sehingga menyebabkan kehadirannya sentiasa ditunggu-tunggu oleh mereka yang ahli ibadat sebagai masa mengaut pahala.
Bulan Sya‘ban adalah antara bulan yang paling dicintai oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di mana Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam akan lebih banyak berpuasa di bulan ini. Pernah diriwayatkan bahawa Baginda tidak pernah berpuasa sunat dalam sebulan, lebih banyak daripada puasanya di bulan Sya‘ban.
Dalam makna yang lain Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memperbanyakkan puasa sunat di bulan Sya‘ban dibandingkan bulan-bulan yang lain. Oleh kerana itu amatlah dituntut bagi umat Islam mencontohi apa yang dilakukan oleh Baginda itu kerana selain memperbanyak amal kebajikan di bulan ini, ia juga merupakan suatu latihan rohani ke arah mempersiapkan diri menyambut kedatangan bulan Ramadhan.
Amalan-Amalan Sunat Pada Bulan Sya‘ban
Keistimewaan bulan ini bahawa amalan seluruh manusia diangkat untuk dihadapkan kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala, maka sewajarnyalah sepanjang bulan ini diisikan dengan amal ibadah dan kebajikan. Maka antara amalan yang digalakkan pada bulan Sya‘ban adalah:
1. Memperbanyak puasa sunat.
Bahawa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam lebih gemar berpuasa sunat dalam bulan Sya‘ban berbanding dengan bulan-bulan yang lain.
2. Bertaubat dan beristiqhfar
Taubat ialah pembersihan rohani kerana taubat itu menjadi tuntutan dalam agama supaya setiap diri individu yang sememangnya tidak ma‘shum ini melakukan taubat pada setiap masa dan ketika. Tegasnya hukum taubat itu adalah wajib dari segi syara‘. Walau bagaimanapun sebenar-benar taubat itu ialah yang dikatakan taubat nasuha.
Taubat nasuha tidak akan tercapai tanpa mendatangkan terlebih dahulu syarat-syarat yang ditentukan. Umpamanya jika dosa itu antara hamba dengan Tuhan:
1. Hendaklah dia meninggalkan dosa atau maksiat itu.
2. Hendaklah dia benar-benar menyesali dan merasa dukacita atas perbuatan maksiatnya itu.
3. Hendaklah dia berjanji dan berazam untuk tidak akan kembali mengulangi melakukannya.
Manakala jika dosa itu bersangkut paut dengan hak orang lain, maka selain syarat-syarat sebagaimana yang disebutkan di atas, ditambah lagi satu syarat iaitu hendaklah membersihkan dirinya daripada hak orang itu atau orang yang melakukan dosa itu memohon maaf kepada orang berkenaan.
Selain daripada itu, peranan taubat itu sendiri tidak terhenti setakat membersihkan diri daripada segala dosa dan maksiat. Lebih daripada itu ia juga merupakan suatu cara untuk kita sentiasa berlindung diri kepada Allah subhanahu wa Ta‘ala memohon keberkatan ketika kita memulakan dan membuat sesuatu pekerjaan yang berfaedah dan mengharapkan kurnia, taufiq serta diselamatkan daripada ditimpa musibah, kesusahan, kesulitan dan sebagainya.
Adapun istighfar itu pula ialah pernyataan memohon ampun kepada Allah daripada semua dosa. Lafaz istighfar itu di antaranya ialah bererti: “Aku memohon ampun kepada Allah yang Maha Agung”.
3. Memperbanyak zikir dan berdoa
Zikir ialah ucapan yang dilakukan dengan lidah atau mengingati Allah dengan hati, dengan ucapan atau ingatan yang mempersucikan Allah dan membersihkanNya dari sifat-sifat yang tidak layak untukNya.
Terdapat banyak ayat al-Qur'an dan hadis yang memerintahkan agar manusia mengambil berat tentang zikir. Banyak faedah yang diperolehi hasil daripada berzikir. Antaranya ialah:
i. Menenangkan hati:
Ini bersesuaian dengan janji Allah Subhanahu wa Ta‘ala bahawa orang-orang yang beriman itu tenang hati mereka dengan zikrullah. Ini kerana berzikir (mengingati Allah) itu mententeramkan hati manusia.
ii. Kawalan Diri dan Perlindungan Malaikat:
Seseorang itu merasa terkawal kerana Allah sentiasa menyertainya di mana sahaja dia berada. Akibatnya paling minima dia takut hendak berbuat maksiat dan bersedia pula untuk melakukan ketaatan.
Bahkan dia juga mendapat kawalan sepenuhnya daripada malaikat. Bagi orang yang sekadar duduk di majlis zikir sekalipun tidak bersama berzikir akan mendapat juga rahmat Allah dan kawalan malaikat.
iii. Terpelihara Daripada Godaan dan Pujukan Syaitan.
iv. Meningkatkan Rasa Kecintaan Kepada Allah:
Untuk meningkatkan kecintaan kepada Allah, mestilah memahami dan menghayati bacaan tasbih, doa dan istighfar yang diucapkan itu.
Antara keistemewaan amalan zikir itu pula ialah:
i. Zikir boleh dilaksanakan bila-bila masa walaupun sedang melakukan pekerjaan tanpa terikat dengan waktu. Ia juga boleh dilaksanakan dalam keadaan duduk, tidur, berdiri dan baring.
ii. Boleh dilaksanakan walaupun dalam keadaan berhadas sama ada hadas kecil mahu pun hadas besar. Walau bagaimanapun makruh berzikir secara lisan ketika berada di dalam tandas.
Begitu juga dengan perkara doa. Doa boleh dilakukan tanpa mengira tempat dan masa. Doa ialah memohon sesuatu hajat atau perlindungan daripada Allah Subhanahu wa Ta‘ala dengan cara merendahkan diri dan tawadhu‘ kepadaNya.
Selain daripada itu banyak lagi amal kebajikan yang boleh dilaksanakan di bulan Sya‘ban ini sebagai persiapan menyambut kedatangan Ramadhan seperti memperbanyakkan selawat atas junjungan besar Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, bersembahyang sunat terutama di waktu malam, banyak bersedekah dan sebagainya. Maka rebutlah peluang dan kelebihan yang ada di bulan Sya‘ban ini untuk mempertingkatkan keimanan dan ketaqwaan kita. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya, mengapa Baginda melebihkan berpuasa sunat di bulan Sya‘ban berbanding bulan-bulan yang lain? Baginda bersabda:
Maksudnya: “Bulan itu (Sya‘ban) yang berada di antara Rejab dan Ramadhan adalah bulan yang dilupakan manusia dan ia adalah bulan yang diangkat padanya amal ibadah kepada Tuhan Seru Sekalian Alam, maka aku suka supaya amal ibadah ku di angkat ketika aku berpuasa”.
(Hadis riwayat an-Nasaie)
Amalan pada malam Nisfu Sya`ban.
Apabila telah selesai sembahyang Maghrib, hendaklah bi baca surah "Yaa Sinn" dengan niatkan mohon panjangkan umur dalam mentaati Allah, kemudian dibaca doa-doanya. Kemudian dibacakan surah "Yaa Sinn" pula kali keduanya dengan diniatkan diluaskan Allah rezekinya yang halal dan diberkati-Nya, kemudian lalu dibacakan doa-doanya. Kemudian dibacakan surah "Yaa Sinn" kali ketiganya pula serta diniatkan minta ditetapkan iman dan mati dalam iman, kemudian dibacakan doa-doanya.
Kelebihan Malam Nisfu Sya‘ban
Adapun kelebihan Malam Nisfu Sya‘ban itu telah disebutkan di dalam hadis shahih daripada Mu‘az bin Jabal Radhiallahu ‘anhu, bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya :
“Allah menjenguk datang kepada semua makhlukNya di Malam Nisfu Sya‘ban, maka diampunkan dosa sekalian makhlukNya kecuali orang yang menyekutukan Allah atau orang yang bermusuhan.”
(Hadis riwayat Ibnu Majah, at-Thabrani dan Ibnu Hibban)
Di Malam Nisfu Sya‘ban juga, adalah di antara malam-malam yang dikabulkan doa. Berkata Imam asy-Syafi‘e dalam kitabnya al-Umm: “Telah sampai pada kami bahawa dikatakan: sesungguhnya doa dikabulkan pada lima malam iaitu: pada malam Jumaat, malam Hari Raya Adha, malam Hari Raya ‘Aidil fitri, malam pertama di bulan Rejab dan malam nisfu Sya‘ban.”
Menghidupkan Malam Nisfu Sya‘ban
Nisfu Sya‘ban ialah hari ke lima belas daripada bulan Sya‘ban. Malam Nisfu Sya‘ban merupakan malam yang penuh rahmat dan pengampunan daripada Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Kenyataan ini dapat direnung kepada hadis yang diriwayatkan oleh Mu‘az bin Jabal Radhiallahu ‘anhu di atas.
Adapun cara menghidupkan Malam Nisfu Sya‘ban sebagaimana yang dilakukan sekarang ini tidak berlaku pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan zaman para sahabat. Akan tetapi ia berlaku pada zaman tabi‘in dari penduduk Syam. Menyebut al-Qasthalani dalam kitabnya al-Mawahib al-Ladunniyah, bahawa para tabi‘in daripada penduduk Syam seperti Khalid bin Ma‘dan dan Makhul, mereka beribadat dengan bersungguh-sungguh pada Malam Nisfu Sya‘ban. Maka dengan perbuatan mereka itu, mengikutlah orang ramai pada membesarkan malam tersebut.
Para tabi‘in tersebut menghidupkan Malam Nisfu Sya‘ban dengan dua cara:
1. Sebahagian mereka hadir beramai-ramai ke masjid dan berjaga di waktu malam (qiamullail) untuk bersembahyang sunat dengan memakai harum-haruman, bercelak mata dan berpakaian yang terbaik.
2. Sebahagiannya lagi melakukannya dengan cara bersendirian. Mereka menghidupkan malam tersebut dengan beribadat seperti sembahyang sunat dan berdoa dengan cara bersendirian.
Ada pun cara kita sekarang ini menghidupkan Malam Nisfu Sya‘ban dengan membaca Al-Qur'an seperti membaca surah Yasin, berzikir dan berdoa dengan berhimpun di masjid-masjid atau rumah-rumah persendirian sama ada secara berjemaah atau perseorangan adalah tidak jauh berbeza dengan apa yang dilakukan oleh para tabi‘in itu.
Amalan-Amalan Bid‘ah Dalam Bulan Sya‘ban
Dalam keghairahan kita menghidupkan Malam Nisfu Sya‘ban itu dengan berbagai cara ibadat, kita perlu berhati-hati agar tidak melakukan perkara-perkara bid‘ah.
Di antara perkara bid‘ah itu ialah bersembahyang sunat Nisfu Sya‘ban. Sembahyang ini sebenarnya tiada tsabit dalam ajaran Islam. Imam an-Nawawi dan Imam Ibnu Hajar telah menafikan adanya sembahyang sunat Nisfu Sya‘ban kerana suatu sembahyang itu disyariatkan cukup dengan sandarannya sama ada dari nash Al-Qur'an atau pun hadis.
Jika seseorang itu masih juga ingin untuk melakukan sembahyang, maka sayugialah dia mengerjakan sembahyang-sembahyang sunat yang lain seperti sunat Awwabin (di antara waktu maghrib dan Isya'), sembahyang tahajjud, akhirnya sembahyang witir atau sembahyang sunat muthlaq bukan sembahyang sunat Nisfu Sya‘ban. Sembahyang sunat muthlaq ini boleh dikerjakan pada bila-bila masa sahaja sama ada pada Malam Nisfu Sya‘ban atau pada malam-malam yang lain.
Adalah mendukacitakan pada malam yang penuh berkat dan keampunan itu, wujud perkara-perkara yang tidak selari dengan syara‘, iaitu adanya orang yang membuat hiburan atau mengadakan konsert pada Malam Nisfu Sya‘ban. Apatah lagi jika hiburan atau permainan yang diadakan itu melibatkan ramai orang Islam sehingga terlepas untuk merebut peluang beribadat dan berdoa pada malam tersebut. Perbuatan seumpama ini setentunya menyumbang kepada maksiat.
Sesunguhnya bulan Sya‘ban itu adalah bulan di mana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam lebih banyak berpuasa sunat dibandingkan pada bulan-bulan yang lain, iaitu sebagai persiapan dan persediaan untuk menghadapi bulan Ramadhan. Amalan Baginda itu sewajarnya dicontohi oleh sekalian umat Islam disamping bulan Sya‘ban itu sendiri mempunyai kelebihan yang tersendiri seperti Malam Nisfu Sya‘ban.
*********
FADHILAT SYA'BAN
sumber: http://members.tripod.com/~DarulUlum/BH2
1. Telah memberitahu kepada kami Abdullah bin Yusuf Telah memberitahu kami Malik daripada Abi An-Nadhri daripada Abi Salamah daripada Sayyidatina 'Aishah telah berkata : Rasulullah S.A.W berpuasa sehingga kita mengatakan dia tidak berbuka dan baginda S.A.W berbuka sehingga kami berkata dia tidak berpuasa. Dan aku tidak pernah melihat Rassulullah S.A.W menyempurnakan puasa sebulan penuh melainkan pada bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat baginda S.A.W banyak berpuasa melainkan pada bulan Sya'ban.
( Diriwayatkan oleh imam Bukhari di dalam sohihnya dan imam Muslim di dalam sohihnya )
2. Telah memberitahu kami Muaz bin Fudhalah telah memberitahu kami Hisham daripada Yahya daripada Abi Salamah sesungguhnya sayyidatina 'Aishah telah memberitahunya dengan berkata : Nabi S.A.W tidak banyak berpuasa melainkan pada bulan Sya'ban, dan baginda S.A.W telah berpuasa sebulan penuh pada bulan Sya'ban. Dan adalah baginda S.A.W bersabda : Lakukanlah amalan yang mana kamu mampu membuatnya maka sesungguhnya Allah tidak membebankan ( mewajib )kamu sehingga kamu merasa berat dengan bebanan. Dan apa yang disukai oleh Rasulullah S.A.W adalah sembahyang(sunat) yang sentiasa dibuat sekalipun sedikit. Dan adalah baginda S.A.W apabila mendirikan sembahyang maka baginda S.A.W sentiasa berterusan di dalam berbuat demikian.
( Diriwayatkan oleh imam Bukhari di dalam sohihnya dan imam Muslim di dalam sohihnya)
3. Telah memberitahu kami Sufian bin 'Uyainah daripada Ibn Abi Labid daripada Abi Salamah telah berkata : Aku telah bertanya Sayyidatina 'Aishah tentang puasa Rasulullah S.A.W maka dia menjawab : Adalah baginda S.A.W berpuasa sehingga kami berkata : Sesungguhnya baginda S.A.W telah berpuasa dan baginda s.A.W berbuka sehingga kami mengatakan : Telah baginda S.A.W berbuka. Aku tidak pernah melihat baginda S.A.W berpuasa dari sebulan sahaja lebih banyak daripada puasa baginda S.A.W pada bulan Sya'ban. Kadang-kadang baginda S.A.W berpuasa Sya'ban sebulan penuh dan kadang-kadang baginda S.A.W berpuasa sedikit daripadanya.
(Diriwayatkan oleh imam Muslim di dalam sohihnya)
4. Telah memberitahuku Muawiyah bin Soleh daripada Abdullah bin Abi Qais sesungguhnya dia telah mendengar Sayyidatina 'Aishah berkata : Bulan yang disukai oleh Rasulullah S.A.W yang mana baginda S.A.W berpuasa padanya adalah bulan Sya'ban kemudian disambung puasa pada bulan Ramadhan.
( Hadis ini sanadnya Hasan dan diriwayatkan oleh Abu Daud, An-Nasaei, Ibn Khuzaimah, Al-Baihaqi dan Al-Baghawi)
5. Telah memberitahuku Al-Maqburi daripada Abu Hurairah daripada Usamah bin Zaid telah berkata: Aku telah berkata : Wahai Rasulullah! sesungguhnya kau telah melihat engkau berpuasa pada bulan yang mana aku tidak melihat engkau berpuasa pada bulan yang mana engkau puasa padanya. Soal Rasulullah S.A.W : Bulan apa? Aku telah berkata: Sya'ban bulan diantara Rejab dan Ramadhan yang mana melupai manusia mengenainya(diangkat kepadaNya) segala amalan semua hamba maka aku lebih suka amalanku tidak diangkat melainkan bersamanya aku berpuasa. Mka aku berkata lagi: Aku melihat engkau berpuasa pada hari Isnin dan Khamis dan tidak mengabaikan kedua-dua hari itu.Sabda baginda S.A.W : Sesungguhnya segala amalan semua hamba akan diangkat pada kedua-dua hari itu maka aku lebih suka tidak diangkat amalanku melainkan bersamanya aku berpuasa.
( Hadis ini sanadnya Hasan dan telah dikeluarkan oleh An-Nasaei, Imam Ahmad dan imam Al-Baihaqi )
HADIS MENGENAI KELEBIHAN MALAM NISFU SYA'BAN
1. Daripada Makhul daripada Malik bin Yakhamir daripada Muaz bin Jabal daripada Nabi S.A.W telah bersabda: Sesungguhnya Allah ta'ala memerhati makhlukNya pada malam nisfu(pertengahan) daripada Sya'ban maka Dia akan mengampuni semua makhlukNya melainkan orang yang syirik atau orang yang bermusuhan.
( Hadis ini isnadnya Hasan dan dikeluarkan oleh Ibn Habban, Al-Baihaqi dan At-Thobarani )
2.Daripada Hisham bin Hassan daripada ( Al-Hasan daripada) Usman bin Abi Al-'As daripada Nabi S.A.W telah bersabda : Apabila tibanya malam nisfu (pertengahan) daripada bulan Sya'ban, pemanggil akan memang- gil : Adakah daripada mereka yang memohon keampunan maka nescaya diampun baginya ? Adakah daripada kalangan mereka yang meminta maka akan diberi? Maka tidak ada seseorang yang memohon sesuatu melainkan akan diberi melainkan penzina dengan kemaluannya ataupun orang syirik.
( Hadis ini isnadnya Hasan dan dikeluarkan oleh Al-Kharaiti, Al-Baihaqi dan imam Sayuti)
Penerangan Hadis:
1. Hadis-hadis ini menjelaskan kepada kita bagaimana kelebihan bulan Sya'ban yang mana Rasulullah S.A.W sentiasa berpuasa bahkan melebihi bulan-bulan yang lain.
2. Hadis-hadis ini juga menerangkan bagaimana hukum berpuasa pada bulan Sya'ban iaitu sunat bukannya wajib. Oleh itu baginda S.A.W kadang-kadang berpuasa penuh sebulan pada bulan ini dan pada suatu ketika baginda tidak berbuat demikian. Kita perlu ingat bahawa setiap perbuatan Rasulullah S.A.W merupakan sunnah fi'liyyah (sunnah yang berasaskan perbuatan) yang boleh dijadikan hujjah di dalam mengeluarkan sesuatu hukum.
3. Baginda S.A.W juga menggalakkan kita agar di dalam melakukan sesuatu yang baik terutama dalam ibadat khusus seperti solat sunat, puasa sunat dan sedekah maka ia mestilah dilakukan secara berterusan walaupun sedikit. Kita kadang-kadang melakukan perkara ini secara banyak tetapi tidak berterusan dan ia dilakukan apabila timbulnya perasaan rajin sahaja. Ini menyebabkan kita kurang merasai hikmat dan kesan daripada amalan tersebut. Ini kerana apabila ia dilakukan secara berterusan akan mendatangkan kepada kita perasaan untuk menghisab dan menghitung diri sendiri secara berterusan dan ini akan melahirkan individu yang sentiasa berada dalam ibadat dan mengingati Allah setiap masa dan tempat sama ada ditikar sembahyang, ketika belajar mahupun ketika berkerja.
4. Galakan ini juga bertujuan untuk melatih dan membiasakan kita dengan berpuasa sebelum masuknya bulan Ramadhan yang memang kita mesti berpuasa padanya.
5. Baginda juga menekankan bagaimana seseorang muslim mesti percaya bahawa setiap amalan yang dilakukan bukanlah sia-sia malah ia akan diangkat kepada Allah untuk dihisab kualitinya. Apabila perasaan ini timbul sepanjang kehidupan dan peribadatan kita seharian akan menyebabkan kita semakin yakin kepada balasan Allah terhadap apa yang telah kita sama-sama tunaikan. Ini dapat menghindarkan diri daripada melakukan sesuatu ibadat sambil lewa dan penuh dengan perasaan malas dan juga mampu memberi peringatan agar jangan mendekati segala maksiat kerana setiap gerak laku kita diperhati dan dihisab oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.
6. Baginda S.A.W juga menjelaskan bagaimana adanya waktu-waktu tertentu yang mempunyai kelebihannya tersendiri seperti pada hari Isnin dan Khamis serta pada bulan Sya'ban terutama pada malam pertengahan bulannya. Baginda S.A.W juga mengajar kita agar menggunakan kesempatan yang ada dengan berdoa dan beribadah kepada Allah.
7. Islam mengajar kita agar menjaga masa dan menggunakan peluang yang ada untuk beribadat bukannya dihabiskan begitu sahaja disebabkan kita tidak merasa berdosa apabila tidak mempedulikan masa. Orang kafir mapu menjaga masa dan menggunakan masa untuk perkara berfaedah serta tidak kurang juga digunakan untuk mengatur strategi di dalam menyerang Islam. Adakah kita terus hanyut dibuai mimpi sedangkan musuh Islam telah lama merancang untuk menghancurkan kita.
8. Islam mahu melahirkan umat yang berkualiti dalam ibadat, masa dan pekerjaan yang mana ia tidak menyuruh kita sekadar menunaikan ibadat khusus seperti sembahyang, puasa dan bersedekah sahaja tetapi juga menekankan agar setiap ibadat yang dilakukan mampu melahirkan umat yang sedar siapa mereka dan apa tanggungjawab mereka. Ingatlah bahawa Rasulullah S.A.W pernah memarahi sahabat yang hanya mahu beribadat khusus sahaja sedangkan baginda S.A.W sendiri bukan sahaja merupakan orang yang kuat beribadat khusus, memohon keampunan malah baginda juga sebagai bapa, suami, ahli masyarakat dan juga yang paling besar dan berat adalah sebagai pemimpin negara. Semuanya dikira ibadat jika dilakukan mengikut landasan Islam. Kita jangan termakan dengan dakyah sesat golongan kuffar yang menyatakan ibadat adalah perkara yang berkaitan dengan sembahyang, puasa, haji dan ibadat khusus yang lain sahaja tanpa mempedulikan kewajipan kita yang besar seperti tanggungjawab terhadap kerja, keluarga, masyarakat setempat dan juga pemerintahan negara.
9. Islam mencela mereka yang syirik, berzina dan bermusuhan yang mana doa mereka tidak dimaqbulkan.
Biografi
1. Fathul Bari syarah sohih Bukhari oleh Ibnu Hajar jilid 4 cetakan Maktabah Al-Risalah Al-Hadisah
2. Syarah Sohih Muslim oleh imam An-Nawawi jilid 15/16 cetakan Darul Makrifah
3. Kitab Fadahailul Auqat oleh Abi Bakar bin Al-Husin Al-Baihaqi di kaji oleh Adnan Abdul Rahman Majid Al-Qaisi cetakan Maktabah Al-Manarah Makah Mukarramah.
-------------------
Selamat Menyambut Israk Mikraj Dan Peristiwa Israk Mikraj Nabi Muhammad S.A.W. – 27 Rejab Dan Antara kelebihan dalam Bulan Rejab

Assalamualaikum...
"Dengan menyebut nama Allah Yng Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang"
Selamat menyambut Israk Mikraj kepada semua muslimin dan muslimat yang di kasihi. Kenangilah kembali peristiwa junjungan kita Nabi Muhammad s.a.w. di angkat ke langit menemui Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyanyang.
Israk dan Mikraj merupakan satu perjalanan kilat (sangat pantas) Rasulullah s.a.w. pada sebahagian malam atas kekuasaan dan kehendak Allah dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa, kemudian naik ke langit sampai ke Sidratulmuntaha, bahkan ke Mustawa dan sampai di bawah Arasy Allah dengan menembusi tujuh lapisan langit, lalu kembali semula ke Mekah pada malam yang sama.
Menurut beberapa riwayat peristiwa Israk dan Mikraj berlaku pada malam 27 Rejab tahun kesebelas kerasulan Baginda, ia berlaku setahun sebelum hijrahnya Rasulullah s.a.w. ke kota Madinah.
Peristiwa ini bersabit dengan firman Allah s.w.t di dalam surah Al-Isra ayat yang pertama maksudnya: "Maha suci Allah yang telah menjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam (di Mekah) ke Masjidil Aqsa (di Palestin), yang Kami berkati sekelilingnya, untuk memperlihatkan kepadanya tanda-tanda (kekuasaan dan kebesaran) Kami. Sesungguhnya Allah jualah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
Pada paginya, Rasulullah s.a.w. termenung, memikirkan bagaimana untuk memberitahu umat manusia tentang peristiwa tersebut, kerana ia suatu yang di luar kemampuan manusia. Bayangkan perjalanan ke Baitulmaqdis sahaja mengambil masa hampir sebulan, inikan pula dalam satu malam.
Rasulullah s.a.w. menyahut cabaran Abu Jalal agar dikumpulkan manusia untuk memberitahu mereka tentang peristiwa perjalanan Rasulullah s.a.w. ke Masjidil Aqsa. Apabila manusia telah berkumpul, dan Rasulullah s.a.w. menceritakan kepada mereka tentang perjalanan baginda ke Masjidil Aqsa dalam satu malam, ramai daripada mereka yang tidak percaya.
Mereka yang lemah imannya mendustakan Rasulullah s.a.w. manakala mereka yang sudah kuat imannya, bertambah kukuh lagi keimanan, seperti Sayidina Abu Bakar As-Siddiq r.a.
Keberanian Rasulullah s.a.w. memaklumkan kepada umat manusia tentang perjalanan Baginda tersebut sememangnya wajib dicontohi kerana ia memberikan iktibar kepada umat Islam masa kini supaya perlu bersabar dan terus menunjukkan akhlak yang baik, walaupun ditentang oleh mereka yang tidak beriman dan tidak memahami Islam.
Sudah menjadi lumrah, mereka yang tidak memahami Islam akan mempunyai pandangan serong dan silap faham terhadap Islam. LEBIH-LEBIH LAGI BAGI UMAT ISLAM YANG NAIF TENTANG TENTANG KEFAHAMAN DAN ILMU ISLAMNYA.
Contohilah Rasulullah s.a.w. Walaupun baginda diperli, dikeji dan didustai kerana menyampaikan berita Israk, Rasulullah s.a.w. tetap bersabar dan menunjukkan akhlak yang baik.
Sepertimana sabda Rasulullah SAW: 'Sampaikanlah pesananku walaupun satu ayat'. Sesungguhnya apabila matinya seseorang anak Adam itu, hanya 3 perkara yang akan dibawanya bersama:
1. Sedekah/amal jariahnya,
2. Doa anak-anaknya yang soleh dan
3. Ilmu yang bermanfaat yang disampaikannya kepada orang lain.
Wallahu a'lam
Peristiwa Israk Mikraj Nabi Muhammad S.A.W. – 27 Rejab
1. Sebelum Israk dan Mikraj
Rasulullah S. A. W. mengalami pembedahan dada / perut, dilakukan oleh malaikat Jibrail dan Mika’il. Hati Baginda S. A. W.. dicuci dengan air zamzam, dibuang ketul hitam (‘alaqah) iaitu tempat syaitan membisikkan waswasnya. Kemudian dituangkan hikmat, ilmu, dan iman. ke dalam dada Rasulullah S. A. W. Setelah itu, dadanya dijahit dan dimeterikan dengan “khatimin nubuwwah”. Selesai pembedahan, didatangkan binatang bernama Buraq untuk ditunggangi oleh Rasulullah dalam perjalanan luar biasa yang dinamakan “Israk” itu.
2. Semasa Israk (Perjalanan dari Masjidil-Haram ke Masjidil-Aqsa):
Sepanjang perjalanan (israk) itu Rasulullah S. A. W. diiringi (ditemani) oleh malaikat Jibrail dan Israfil. Tiba di tempat-tempat tertentu (tempat-tempat yang mulia dan bersejarah), Rasulullah telah diarah oleh Jibrail supaya berhenti dan bersembahyang sebanyak dua rakaat. Antara tempat-tempat berkenaan ialah:
i. Negeri Thaibah (Madinah), tempat di mana Rasulullah akan melakukan hijrah. ii. Bukit Tursina, iaitu tempat Nabi Musa A. S. menerima wahyu daripada Allah; iii. Baitul-Laham (tempat Nabi ‘Isa A. S. dilahirkan);
Dalam perjalanan itu juga baginda Rasulullah S. A. W. menghadapi gangguan jin ‘Afrit dengan api jamung dan dapat menyasikan peristiwa-peristiwa simbolik yang amat ajaib. Antaranya :
- Kaum yang sedang bertanam dan terus menuai hasil tanaman mereka. apabila dituai, hasil (buah) yang baru keluar semula seolah-olah belum lagi dituai. Hal ini berlaku berulang-ulang. Rasulullah S. A. W. dibertahu oleh Jibrail : Itulah kaum yang berjihad “Fisabilillah” yang digandakan pahala kebajikan sebanyak 700 kali ganda bahkan sehingga gandaan yang lebih banyak.
- Tempat yang berbau harum. Rasulullah S. A. W. diberitahu oleh Jibrail : Itulah bau kubur Mayitah (tukang sisir rambut anak Fir’aun) bersama suaminya dan anak-anak-nya (termasuk bayi yang dapat bercakap untuk menguatkan iman ibunya) yang dibunuh oleh Fir’aun kerana tetapt teguh beriman kepada Allah (tak mahu mengakui Fir’aun sebagai Tuhan).
- Sekumpulan orang yang sedang memecahkan kepala mereka. Setiap kali dipecahkan, kepala mereka sembuh kembali, lalu dipecahkan pula. Demikian dilakukan berkali-kali. Jibrail memberitahu Rasulullah: Itulah orang-orang yang berat kepala mereka untuk sujud (sembahyang).
- Sekumpulan orang yang hanya menutup kemaluan mereka (qubul dan dubur) dengan secebis kain. Mereka dihalau seperti binatang ternakan. Mereka makan bara api dan batu dari neraka Jahannam. Kata Jibrail : Itulah orang-orang yang tidak mengeluarkan zakat harta mereka.
- Satu kaum, lelaki dan perempuan, yang memakan daging mentah yang busuk sedangkan daging masak ada di sisi mereka. Kata Jibrail: Itulah lelaki dan perempuan yang melakukan zina sedangkan lelaki dan perempuan itu masing-masing mempunyai isteri / suami.
- Lelaki yang berenang dalam sungai darah dan dilontarkan batu. Kata Jibrail: Itulah orang yang makan riba`.
- Lelaki yang menghimpun seberkas kayu dan dia tak terdaya memikulnya, tapi ditambah lagi kayu yang lain. Kata Jibrail: Itulah orang tak dapat menunaikan amanah tetapi masih menerima amanah yang lain.
- Satu kaum yang sedang menggunting lidah dan bibir mereka dengan penggunting besi berkali-kali. Setiap kali digunting, lidah dan bibir mereka kembali seperti biasa. Kata Jibrail: Itulah orang yang membuat fitnah dan mengatakan sesuatu yang dia sendiri tidak melakukannya.
- Kaum yang mencakar muka dan dada mereka dengan kuku tembaga mereka. Kata Jibrail: Itulah orang yang memakan daging manusia (mengumpat) dan menjatuhkan maruah (mencela, menghinakan) orang.
- Seekor lembu jantan yang besar keluar dari lubang yang sempit. Tak dapat dimasukinya semula lubang itu. Kata Jibrail: Itulah orang yang bercakap besar (Takabbur). Kemudian menyesal, tapi sudah terlambat.
- Seorang perempuan dengan dulang yang penuh dengan pelbagai perhiasan. Rasulullah tidak memperdulikannya. Kata Jibrail: Itulah dunia. Jika Rasulullah memberi perhatian kepadanya, nescaya umat Islam akan mengutamakan dunia daripada akhirat.
- Seorang perempuan tua duduk di tengah jalan dan menyuruh Rasulullah berhenti. Rasulullah S. A. W. tidak menghiraukannya. Kata Jibrail: Itulah orang yang mensesiakan umurnya sampai ke tua.
- Seorang perempuan bongkok tiga menahan Rasulullah untuk bertanyakan sesuatu. Kata Jibrail: Itulah gambaran umur dunia yang sangat tua dan menanti saat hari kiamat.
Setibanya di masjid Al-Aqsa, Rasulullah turun dari Buraq. Kemudian masuk ke dalam masjid dan mengimamkan sembahyang dua rakaat dengan segala anbia` dan mursalin menjadi makmum.
Rasulullah S. A. W. terasa dahaga, lalu dibawa Jibrail dua bejana yang berisi arak dan susu. Rasulullah memilih susu lalu diminumnya. Kata Jibrail: Baginda membuat pilhan yang betul. Jika arak itu dipilih, nescaya ramai umat baginda akan menjadi sesat.
3. Semasa Mikraj (Naik ke Hadhratul-Qudus Menemui Allah):
Didatangkan Mikraj (tangga) yang indah dari syurga. Rasulullah S. A. W. dan Jibrail naik ke atas tangga pertama lalu terangkat ke pintu langit dunia (pintu Hafzhah).
1. Langit Pertama: Rasulullah S. A. W. dan Jibrail masuk ke langit pertama, lalu berjumpa dengan Nabi Adam A. S. Kemudian dapat melihat orang-orang yang makan riba` dan harta anak yatim dan melihat orang berzina yang rupa dan kelakuan mereka sangat huduh dan buruk. Penzina lelaki bergantung pada susu penzina perempuan.
11. Langit Kedua: Nabi S. A. W. dan Jibrail naik tangga langit yang kedua, lalu masuk dan bertemu dengan Nabi ‘Isa A. S. dan Nabi Yahya A. S.
111. Langit Ketiga: Naik langit ketiga. Bertemu dengan Nabi Yusuf A. S.
1v. Langit Keempat: Naik tangga langit keempat. Bertemu dengan Nabi Idris A. S.
v. Langit Kelima: Naik tangga langit kelima. Bertemu dengan Nabi Harun A. S. yang dikelilingi oleh kaumnya Bani Israil.
v1. Langit Keenam: Naik tangga langit keenam. Bertemu dengan Nabi-Nabi. Seterusnya dengan Nabi Musa A. S. Rasulullah mengangkat kepala (disuruh oleh Jibrail) lalu dapat melihat umat baginda sendiri yang ramai, termasuk 70,000 orang yang masuk syurga tanpa hisab.
v11. Langit Ketujuh: Naik tangga langit ketujuh dan masuk langit ketujuh lalu bertemu dengan Nabi Ibrahim Khalilullah yang sedang bersandar di Baitul-Ma’mur dihadapi oleh beberapa kaumnya. Kepada Rasulullah S. A. W., Nabi Ibrahim A. S. bersabda, “Engkau akan berjumapa dengan Allah pada malam ini. Umatmu adalah akhir umat dan terlalu dha’if, maka berdoalah untuk umatmu. Suruhlah umatmu menanam tanaman syurga iaitu lah HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAH”. Mengikut riwayat lain, Nabi Irahim A. S. bersabda, “Sampaikan salamku kepada umatmu dan beritahu mereka, syurga itu baik tanahnya, tawar airnya dan tanamannya ialah lima kalimah, iaitu: SUBHANALLAH, WAL-HAMDULILLAH, WA lah ILAHA ILLALLAH ALLAHU AKBAR dan WA lah HAULA WA lah QUWWATA ILLA BILLAHIL- ‘ALIYYIL-’AZHIM. Bagi orang yang membaca setiap kalimah ini akan ditanamkan sepohon pokok dalam syurga”. Setelah melihat beberpa peristiwa! lain yang ajaib. Rasulullah dan Jibrail masuk ke dalam Baitul-Makmur dan bersembahyang (Baitul-Makmur ini betul-betul di atas Baitullah di Mekah).
11x. Tangga Kelapan: Di sinilah disebut “al-Kursi” yang berbetulan dengan dahan pokok Sidratul-Muntaha. Rasulullah S. A. W. menyaksikan pelbagai keajaiban pada pokok itu: Sungai air yang tak berubah, sungai susu, sungai arak dan sungai madu lebah. Buah, daun-daun, batang dan dahannya berubah-ubah warna dan bertukar menjadi permata-permata yang indah. Unggas-unggas emas berterbangan. Semua keindahan itu tak terperi oleh manusia. Baginda Rasulullah S. A. W. dapat menyaksikan pula sungai Al-Kautsar yang terus masuk ke syurga. Seterusnya baginda masuk ke syurga dan melihat neraka berserta dengan Malik penunggunya.
1x. Tangga Kesembilan: Di sini berbetulan dengan pucuk pokok Sidratul-Muntaha. Rasulullah S. A. W. masuk di dalam nur dan naik ke Mustawa dan Sharirul-Aqlam. Lalu dapat melihat seorang lelaki yang ghaib di dalam nur ‘Arasy, iaitu lelaki di dunia yang lidahnya sering basah berzikir, hatinya tertumpu penuh kepada masjid dan tidak memaki ibu bapanya.
x. Rabbul-Arbab lalu dapat menyaksikan Allah S. W. T. dengan mata kepalanya, lantas sujud. Kemudian berlakulah dialog antara Allah dan Muhammad, Rasul-Nya:
Allah S. W. T : Ya Muhammad. Rasulullah : Labbaika. Allah S. W. T : Angkatlah kepalamu dan bermohonlah, Kami perkenankan. Rasulullah : Ya, Rabb. Engkau telah ambil Ibrahim sebagai Khalil dan Engkau berikan dia kerajaan yang besar. Engkau berkata-kata dengan Musa. Engkau berikan Dawud kerajaan yang besar dan dapat melembutkan besi. Engkau kurniakan kerajaan kepada Sulaiman yang tidak Engkau kurniakan kepada sesiapa pun dan memudahkan Sulaiman menguasai jin, manusia, syaitan dan angin. Engkau ajarkan ‘Isa Taurat dan Injil. Dengan izin-Mu, dia dapat menyembuhkan orang buta, orang sufaq dan menghidupkan orang mati. Engkau lindungi dia dan ibunya daripada syaitan. Allah S. W. T : aku ambilmu sebagai kekasih. Aku perkenankanmu sebagai penyampai berita gembira dan amaran kepada umatmu. Aku buka dadamu dan buangkan dosamu. Aku jadikan umatmu sebaik-baik umat. Aku beri keutamaan dan keistimewaan kepadamu pada hari qiamat. Aku kurniakan tujuh ayat (surah Al-Fatihah) yang tidak aku kurniakan kepada sesiapa sebelummu. Aku berikanmu ayat-ayat di akhir surah al-Baqarah sebagai suatu perbendaharaan di bawah ‘Arasy. Aku berikan habuan daripada kelebihan Islam, hijrah, sedekah dan amar makruf dan nahi munkar. Aku kurniakanmu panji-panji Liwa-ul-hamd, maka Adam dan semua yang lainnya di bawah panji-panjimu. Dan aku fardhukan atasmu dan umatmu lima puluh (waktu) sembahyang.
4. Selesai munajat, Rasulullah S. A. W. di bawa menemui Nabi Ibrahim A. S. kemudian Nabi Musa A. S. yang kemudiannya menyuruh Rasulullah S. A. W. merayu kepada Allah S. W. T agar diberi keringanan, mengurangkan jumlah waktu sembahyang itu. Selepas sembilan kali merayu, (setiap kali dikurangkan lima waktu), akhirnya Allah perkenan memfardhukan sembahyang lima waktu sehari semalam dengan mengekalkan nilainya sebanyak 50 waktu juga.
5. Selepas Mikraj
Rasulullah S. A. W. turun ke langit dunia semula. Seterusnya turun ke Baitul-Maqdis. Lalu menunggang Buraq perjalanan pulang ke Mekah pada malam yang sama. Dalam perjalanan ini baginda bertemu dengan beberapa peristiwa yang kemudiannya menjadi saksi (bukti) peristiwa Israk dan Mikraj yang amat ajaib itu (Daripada satu riwayat peristiwa itu berlaku pada malam Isnin, 27 Rejab, kira-kira 18 bulan sebelum hijrah). Wallahu’alam.
(Sumber : Kitab Jam’ul-Fawaa`id) Kesimpulannya, peristiwa Israk dan Mikraj bukan hanya sekadar sebuah kisah sejarah yang diceritakan kembali setiap kali 27 Rejab menjelang. Adalah lebih penting untuk kita menghayati pengajaran di sebalik peristiwa tersebut bagi meneladani perkara yang baik dan menjauhi perkara yang tidak baik. Peristiwa Israk dan Mikraj yang memperlihatkan pelbagai kejadian aneh yang penuh pengajaran seharusnya memberi keinsafan kepada kita agar sentiasa mengingati Allah dan takut kepada kekuasaan-Nya.
Seandainya peristiwa dalam Israk dan Mikraj ini dipelajari dan dihayati benar-benar kemungkinan manusia mampu mengelakkan dirinya daripada melakukan berbagai-bagai kejahatan. Kejadian Israk dan Mikraj juga adalah untuk menguji umat Islam (apakah percaya atau tidak dengan peristiwa tersebut). Orang-orang kafir di zaman Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam langsung tidak mempercayai, malahan memperolok-olokkan Nabi sebaik-baik Nabi bercerita kepada mereka.
Peristiwa Israk dan Mikraj itu merupakan ujian dan mukjizat yang membuktikan kudrat atau kekuasaan Allah Subhanahu Wataala. Allah Subhanahu Wataala telah menunjukkan bukti-bukti kekuasaan dan kebesaran-Nya kepada Baginda Sallallahu Alaihi Wasallam.
Mafhum Firman Allah S. W. T. : “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa yang telah kami berkati sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
(Surah Al-Israa’: Ayat 1). wallahua’lam..
**************************************************
Antara kelebihan dalam Bulan Rejab
"Dengan menyebut nama Allah Yng Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang"
Kelebihan lain bulan Rejab:
1. Di dalam bulan lain Allah membalas amalan umat-Nya 10 kali, tetapi di dalan bulan Rejab Allah akan membalas amalan umat-Nya 70 kali.
2. Sesiapa meminta ampun (beristighfar) pada pagi dan petang 70 atau 100 kali di dalam bulan Rejab, diharamkan tubuhnya daripada api neraka.
3. Rejab bulan Allah, Sya'aban bulan Rasulullah. S.A.W, Ramadhan bulan umat Rasulullah S.A.W.4. Rejab adalah bulan menabur benih, Sya'aban bulan menyiram tanaman manakala Ramadhan bulan menuai.
5. Amalan di dalam bulan Rejab menyucikan badan, Sya'aban menyucikan hati manakala Ramadhan menyucikan roh.
6. Rejab adalah bulan maghfirah (keampunan), Sya'aban bulan syafaat manakala Ramadhan bulan menggandakan kebajikan.
7. Rejab adalah bulan taubat, Sya'aban bulan muhibbah manakala Ramadhan bulan dilimpahi pahala amalan yang banyak.
8. Pahala amalan baik di dalam bulan Rejab diganda 70 pahala, Sya'aban diganda 700 pahala dan Ramadhan diganda 1,000 pahala.
Beberapa amalan lain yang baik dilakukan dalam bulan Rejab:
1. Menyucikan diri daripada dosa dengan bertaubat dan memohon ampun.
2. Membersihkan hati yang lalai dan alpa melalui amalan istighfar dan zikir.
3. Mendekatkan diri kepada Allah dengan menunaikan solat.
4. Memohon keselamatan dan kesejahteraan dengan berselawat dan berdoa kepada-Nya.
5. Menginsafkan diri dengan membaca kisah teladan perjuangan Rasulullah S.A.W. dan sirah Islam lain.
Peristiwa penting yang telah berlaku dalam bulan Rejab:
1. Israk dan Mikraj (27 Rejab)
2. Solat 5 waktu difardukan ke atas umat Islam (Malam Israk Mikraj)3. Perang Tabuk terjadi di dalam tahun ke-9 Hijrah.Secara ringkasnya, Israk dan Mikraj adalah sebuah peristiwa di mana Nabi Muhammad S.A.W telah di"israk"kan (dibawa berjalan) dari Kota Mekah ke Baitul Muqaddis serta di"mikraj"kan (dibawa naik ke atas) ke Sidratul Muntaha untuk mengadap Allah S.W.T di mana Solat 5 waktu telah difardukan ke atas umat Islam melalui Rasulullah S.A.W. Semuanya berlaku di dalam satu malam sahaja.
Firman Allah SWT:
"Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hambaNya pada satu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkati sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui"
(Surah Al Israa:ayat 1)
DOA BULAN REJAB
"Ya Allah, berkatilah kami pada bulan Rejab dan bulan Sya'aban serta sampaikanlah kami ke bulan Ramadan. Aku bermohon keampunan Allah yang Maha Agung dan tiada Tuhan melainkan Dia, yang hidup, yang berdiri sendiri dan aku bertaubat kepadaNya. Ya Allah, Engkaulah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang patut disembah kecuali Engkau yang mencipta aku. Aku adalah hambaMu dan aku dalam genggamanMu. Aku dalam perjanjian (beriman dan taat) kepadaMu sekadar kemampuan yang ada padaku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang (mungkin) aku lakukan. Aku mengakui atas nikmat yang engkau berikan kepadaku dan mengakui dosa-dosaku. Kerana itu aku memohon keampunan-Mu dan sesungguhnya tiada yang dapat mengampuni dosa seseorang kecuali Engkau Ya-Allah."
Kesimpulannya, bulan Rejab merupakan sebuah bulan yang banyak keistimewaannya yang dijanjikan oleh Allah S.W.T kepada umat-Nya, kerana Rejab adalah bulan Allah. Pintu rahmat terbuka luas kepada umat-Nya untuk bertaubat dan memohon ampun di atas dosa-dosa yang lepas. Namun begitu, suka diingatkan bahawa kita perlu mengerjakan segala amalan yang dituntut ini dengan sifat ikhlas, rendah diri dan tawwaduk agar ganjaran yang akan diperolehi itu ada keberkatannya.
*****************************
Batu Terapung

ini adalah salah satu bukti kebesaran Allah SWT,,batu ini merupakan tempat duduk nabi Muhammad ketrika isra’ mi’raj.batu tempat duduk Nabi Muhammad
SAW sewaktu Israk Mikraj,sampai sekarang batu itu masih tetap terapung di udara. Pada
saat Nabi Muhammad hendak Mikraj batu tersebut ingin ikut bersama Nabi SAW, tetapi
Nabi SAW menghentakkan kakinya agar batu tersebu tidak ikut nabi mi’raj.
kisah Israk Mikraj Nabi Muhammad SAW tentang batu terapung tersebut yang
berada dalam masjid Umar (Dome of the Rock) di Lingkungan Masjidil AL
AQSA di Yarusalem (Baitulmuqadis).
Foto ini didapat dari seorang hamba Allah sewaktu mengunjungi masjid Al Aqsa di Jerusalem, Subhanallah … !! Foto ini dapat lolos dari penjagaan pihak israel yang menjaga ketat tempat tersebut…
Sampai sekarang masjid “dome of rock”[Al Aqso]masih ditutup untuk umum, dan Yahudi
telah membuat masjid lain iaitu Al Sakhra tak jauh disebelahnya
dengan kubah “emas” ( yg sering terlihat di poster2 yg disebarkan ke
seluruh dunia dimana2 ) dan disebut sebagai Al Aqsa, untuk mengelabui
ummat Islam dimana masjid Al Aqsa yang sebenarnya,mengenai masjid Al Aqso yang sebenar nya Nabi Muhammad
SAW pernah sebutkan Al Aqsa sebagai “masjid kubah biru”.
Sekarang ini masjid Al Aqsa yg sebenarnya sudah diambil alih oleh Israel
dan merancang untuk dihancurkan untuk diganti sebagai tempat ibadah
mereka kerana bersebelahan dengan tembok ratapan bangsa Yahudi.

ini merupakan gambar masji Al Aqsa yang asli
KONDISI SOSIAL BUDAYA MESIR

Gambaran kehidupan sosial budaya Mesir laksana bangunan tua yang terlihat seolah-olah sangat lelah dan payah, tiang-tiang bangunannya telah termakan usia perjalanan zaman yang sangat panjang, dan dinding-dinding tambal sulam perpaduan antara bahan peradaban lama dengan baru, serta atapnya berwarna keruh berdebu tebal. Dalam bangunan usang itu pernah generasi demi generasi silih berganti dengan beragam corak karakter dan identitasnya.
Sewaktu kekaisaran Romawi menduduki wilayah Mesir, penduduk Mesir masih menganut animisme. Sejarah menyatakan bahwa imperium Romawi tersebut melakukan penindasan dan pemerasan hasil bumi penduduk untuk kepentingan para penguasa di Romawi (Eropa Lama). Sampai ketika Islam datang dari jazirah Arab tahun 541 membebaskan Mesir dari penindasan dan pemerasan bangsa Romawi.
Keadaan negeri sekarang meski harus menghadapi arus modernisasi, namun kehidupan agamis dengan sentral tempat Ibadah tetap banyak ditemui dimana-mana. Disamping itu kita juga akan menemukan kontradiksi yang dapat kita saksikan dalam aspek kehidupan rakyat Mesir, seperti budaya orang-orang kaya yang gemar kendaraan impor mutakhir. Sementara disisi lain masih ada saja orang miskin di kota yang mengendarai keledai. Mungkin kriteria negara berkembang Mesir ini antik, begitu ungkapan sebagian orang.
Kebiasaan sehari-hari dimasyarakat juga unik. Terkesan perilaku budaya mereka yang beriman kepada TUhan YME, saling mengungkapkan kasih sayang, hati yang mudah kasihan, lapang dada dan tidak pendendam. Tetapi disamping itu ada pula perilaku sebagian mereka yang banyak bicara, suka marah dan mencela, sikap puas, bangga dan memuja keadaan yang ada, sehingga muncul ungkapan seperti, Misr Ummud Dun-ya, Mirs Ahsan Fil 'Alam, dan lain sebagainya. Berbicara kriminalitas di Mesir, tampaknya masih lebih minim bila dibandingkan kota-kota besar dinegara laen.
Bangsa Mesir merupakan bangsa yang memiliki cita dan citra ditengah problematika hidup yang menumpuk. Kegemaran minum Teh (syai) sambil menghisap Syisyah -semacam rokok khas Arab yang dihisap lewat pipa karet sepanjang sekita satu meter- adalah pemandangan umum yang banyak kita jumpai dikedai-kedai kopi. Di kedai tersebut tua muda melepaskan penatnya atau mungkin bermalas-malasan sambil maen domino, dadu atau nonton TV. JIka ada suasana tegang dan teriakan tiba-tiba dari arah kedai kopi, jangan terkejut, itu artinya Zamalek sedang bertanding. Dua klub ini memang memiliki pendukung fanatik yang dikenal dengan sebutan Ahlawy (pendukung Ahly) dan zamalkawy (pendukung zamalek).
Orang Mesir dikenal pula memiliki ikatan keluarga yang erat. "Bangsa ini punya kelebihan dalam menjaga hubungan keluarga yang kuat. Dengan kekuatan hubungan keluarga itu dapat membebaskan mereka dari kemelut hidup yang dihadapi.." demikian menurut seorang wartawan Jerman. Seorang wartawan CIna juga berkomentar, "Yang menjadi perhatian saya terhadap bangsa ini adalah sikap puas dan merasa cukup serta rasa bahagia, tapi bukan karena dampak materi, namun lebih ditunjukkan oleh sikap spirituil. Setiap hari saya menyaksikan seorang penjaga gedung (bawwab) yang tinggal didepan apartemen saya. Dia tinggal bersama isteri dan enam orang anaknya dilantai dasar yang hanya ada satu kamar mandi. Namun saya perhatikan penjaga itu tak pernah cemberut, malah suka bercanda dan tersenyum.."
Pada dimensi lain, orang cacat tetap mendapat tempat yang layak dalam pergaulan sosial. Masyarakat sangat perhatian dan selalu membantu orang pincan, buta, atau pikun sekalipun. Kebiasaan ini berlaku diberbagai tempat, baik ketika di Bus, ruang kuliah dan sebagainya. Kaum wanita juga masih dihormati, walau pergeseran nilai-nilai sudah mulai tampak dikalangan pemuda akibat laju perkembangan zaman yang kurang memperhatikan erosi budaya.
Di Mesir dipergunakan bahasa Arab sebagai bahasa nasional Bahasa Perancis, Inggeris juga dipakai setelah bahasa Arab. Di Mesir juga banyak buku baru yang terbit secara Intensif. Media massanya juga terbuka. Budaya beli buku adalah pemandangan umum yang terjadi disetiap awal tahun ketika pameran buku internasional (book fair) digelar dipusat kota Cairo. Kesempatan ini dimanfaatkan mahasiswa sebagai ajang beli kitab besar-besaran karena harga yang relatif lebih murah.
SERBA-SERBI MESIR.
- TIPS Menghadapi Orang Mesir: Dahului dengan basa basi yang pantas (mujamalah), dengan seringlah memuji seperlunya. Bisa juga dengan memancing bicara sekitar sepak bola.
- Cara berpakaian, terutama wanita Mesi, kalo dipedesaan cenderung lebih sopan. Sedangkan di kota besar bagaikan ada pertarungan mode antara kebarat-baratan dengan mode agamis (sopan).
***
Power Heart

ในโลก ที่สดใส....
ชีวิตที่แวดล้อมด้วยความรู้สึกนึกคิดแตก ต่างกันไป
แต่สิ่งๆ หนึ่งที่เหมือนกันคือ...
กำลังใจ..
โลกกลมๆ ใบนี้ จะมัวแบกรับไว้ทำไม...!
ปลด ปล่อยและปล่อยวางลง
เมื่อเหนื่อยก็พัก
เมื่อล้าก็นั่ง
เมื่อท้อ ก็หยุด
เมื่อหาวก็นอน
พักความรู้สึกที่ท้อแท้ ........
คุณหรือใครๆ ค้นหากำลังใจกันได้เสมอ
กำลัง ใจ เราจะแบ่งปันกันให้ทุกคน ....
ขอเพียงแค่ อย่าหมดหวัง
จงสู้และ ยิ้มกับเหตุการณ์ที่เป็นทุกข์
แล้วจิตใจคุณจะดีกว่าเดิม
เพราะไม่ ว่าจะจมปลักนานแค่ไหน
ค่าที่ได้รับก็คือ เท่าเดิม
จงให้เวลาตัวเองทบทวนและยิ้มกับตัวเอง
เพื่อ ใครก็คงไม่ใช่เพื่อใครเลย
ที่เกริ่นมาทั้งหมด... เพื่อคุณเองทุกๆ คน
พระอาทิตย์ขึ้นยาม เช้า
แล้วใยตัวท่านจะไม่ยิ้มเพื่อต้อนรับวันใหม่ ......
โลกอันหวาน ชื่นและสดใสท้องฟ้ากว้างไกล
จงมองดูและให้กำลังใจกับตัวเองต่อไป...
วันนี้คุณมีคนรอบ ข้างยืนอยู่ใกล้ๆ คุณเสมอ
วันหน้าคุณก็มีคนรอบข้างยืนมองคุณเช่น กัน...............!!!!!!!
ไม่ว่าวันนี้หรือวันไหนๆๆๆ
ก็พร้อมให้ กำลังมอบให้กับคุณเสมอ....
สมัครสมาชิก:
บทความ (Atom)

0 ความคิดเห็น: